Mode demonstrasi: konten bertanda “Contoh” adalah data rekaan, bukan karya penulis nyata.
Cerpen Contoh

Pasar Malam di Ujung Kampung

Bianglala tua itu berputar terakhir kalinya sebelum lapangan dijual. Tiga sahabat kecil berjanji naik sampai puncak — dan menghitung bintang.

Tulisan ini adalah konten demonstrasi untuk menguji tampilan, bukan karya penulis nyata.

Lampu-lampu pasar malam menyala satu per satu, kuning dan merah, seperti buah yang masak sekaligus. Dimas, Yuni, dan Ucok berdiri di depan bianglala dengan tiket yang mereka beli dari tabungan seminggu.

Kabarnya, ini pasar malam terakhir. Lapangan di ujung kampung akan dipagari dan dibangun gudang. Orang dewasa membicarakannya sambil menghela napas; anak-anak membicarakannya sambil menghitung berapa kali lagi mereka bisa naik.

Di puncak putaran, kursi mereka berhenti sejenak. Kampung terlihat kecil, atap-atapnya berkilau sisa hujan. "Kita hitung bintang," kata Yuni. Mereka sampai di angka dua puluh tujuh sebelum bianglala bergerak turun.

Bertahun-tahun kemudian, ketiganya tinggal di kota yang berbeda. Tetapi setiap kali salah satu dari mereka melihat langit yang cerah, ia akan mengirim pesan singkat kepada dua yang lain: "Dua puluh delapan."

← Kembali ke Cerpen

Tulisan Terkait